Selasa, 20 Desember 2016

TUGAS - JOB VACANCY, APPLICATION LETTER , AND CV

JOB VACANCY

Tax

South Jakarta  (Jakart Raya) - Grand ITC Permata Hijau

Requirements            :
·         Candidate must possess at least a Bachelor's Degree in Accounting field from reputable university.
·         Must have good computer skills especially using excel
·         Under the age of 28 years
·         A deep understanding of tax under Articles 21, 22, 23, 25 and 26
·         Familiar with e-spt and other systems associated with tax
·         Familiar with accounting software

Key Responsibilities :
·         rekonsilisi prepare taxes, handling all requests for information the data
·         managing tax provision and compliance processes
·         provide a variety of services in accordance with the tax laws and regulations with a period
·         report monthly and annual tax reports

send cv with a recent photograph by email or drop :
 Grand ITC Permata Hijau Blok Rubi NO.8 Kebayoran Lama, South Jakarta.






APPLICATION LETTER


Jakarta, July 03, 2018

Attenttion :
Personal manager of PT Dua Puluh FIT
Grand ITC Permata Hijau
South Jakarta  


Dear Sir/Madam,
Refer to your requirement advertised in Kompas July 03 2018, i am interested to joint and to contribute with your respected company.

I am twenty-one years of age, single and in  good health condition. I was graduated from Gunadarma University in 2018. My scholastic record is statisfactory and also skill at accounting duties. I am be able to use accounting software and Familiar with e-spt and other systems associated with tax. Able to use MS.Office package suck as Ms.Excel , Ms.Word, MS.Power Point. Also familiar with English Correspondences and Administration duties.

Now, i not working. I am willing to learn and work very well with others and anxious to put my knowledge into pratical. Enclosed in my resume and latest photograph for your review and considerations.

I hope you will grant me an interview and the opportunity to give you more details about my self.




Your faithfully,   






CURRICULUM VITAE


I. Personal Details
Name                           : Moza Nugra Tira
Place & Date of Birth : Jambi, March 3 1997
Address                       : Jl. Tanah 80 Klender Duren Sawit No.46 East Jakarta
Gender                                    : Female
Religion                       : Islam
Nationality      `           : Indonesia
Marital status              : Single
Phone                          : 087780630763
Email                           : mozanugratira03@gmail.com

II. Education Details
2002-2008                               : Elementary School / SDN 47 Jambi
2008-2011                               : Junior High School / SMPN 90 East Jakarta
2011-2014                               : Senior High School / SMAN 36 East Jakarta
2014-2018                               : Universitas Gunadarma

III. Job Experiences
January, 2008 English Course at LPIA
January,2011 English Course at LIA


 IV. Computer Skills
 Microsoft Word , Microsoft Excel, Microsoft Power Point

V. Personality
good attitude, kind, communicative, diligent, tolerant, target oriented, discipline, ,honest, and  be responsible.




                                                                                                Jakarta,10 November 2016



                                                                                                            ( Moza Nugra Tira)

Kamis, 02 Juni 2016

TUGAS : UU NO.24/1999 TENTANG LALU LINTAS DEVISA DAN SISTEM NILAI TUKAR

TUGAS : 
JABARKANLAH UU NO.24 TH 1999 TENTANG LALU LINTAS DEVISA DAN 
SISTEM NILAI TUKAR

LALU LINTAS DEVISA

Pasal 2
(1) Setiap Penduduk dapat dengan bebas memiliki dan menggunakan Devisa.
(2) Penggunaan Devisa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk keperluan transaksi di dalam negeri, wajib memperhatikan ketentuan mengenai alat pembayaran yang sah sebagaimana diatur dalam Undang-undang tentang Bank Indonesia.

Pasal 3
(1) Bank Indonesia berwenang meminta keterangan dan data mengenai kegiatan Lalu Lintas Devisa yang dilakukan oleh Penduduk.
(2) Setiap Penduduk wajib memberikan keterangan dan data mengenai kegiatan Lalu Lintas Devisa yang dilakukannya, secara langsung atau melalui pihak lain yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
(3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Bank Indonesia.

Pasal 4
(1) Dalam rangka penerapan prinsip kehati-hatian, Bank Indonesia menetapkan ketentuan atas berbagai jenis transaksi Devisa yang dilakukan oleh bank.
(2) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Bank Indonesia.

SISTEM NILAI TUKAR


Pasal 5
(1) Bank Indonesia mengajukan Sistem Nilai Tukar untuk ditetapkan oleh Pemerintah.
(2) Bank Indonesia melaksanakan kebijakan nilai tukar berdasarkan Sistem Nilai Tukar sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Bank Indonesia.

Sumber : http://hukum.unsrat.ac.id/uu/uu_24_99.htm



TULISAN : UU NO. 8/1999 PERLINDUNGAN KONSUMEN

JABARKAN UU NO.8/1999, BERIKAN CONTOH KASUSPRODUK MINUMAN YANG MELANGGAR SALAH SATU AYAT


UU no.8/1999 : Perlindungan Konsumen
Menimbang:
Ø bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata material dan spiritual dalam era demokrasi ekonomi berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945
Ø bahwa pembangunan perekonomian nasional pada era globalisasi harus dapat mendukung, tumbuhnya dunia usaha sehingga mampu menghasilkan beraneka barang dan / atau jasa yang, memiliki kandungan teknologi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat banyak dan sekaligus mendapatkan kepastian atas barang dan / atau jasa yang diperoleh dari perdagangan tanpa mengakibatkan kerugian konsumen
Ø bahwa semakin terbukanya pasar nasional sebagai akibat dari proses globilisasi ekonomi harus tetap menjamin peningkatan kesejahteraan masyarakat serta kepastian atas mutu, jumlah, dan keamanan barang dan/atau jasa yang diperolehnya di pasar
Ø bahwa untuk meningkatkan harkat dan martabat konsumen perlu meningkatkan kesadaran, pengetahuan, kepedulian, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi dirinya serta menumbuhkembangkan sikap pelaku usaha yang bertanggungjawab
Ø bahwa ketentuan hukum yang melindungi kepentingan konsumen di Indonesia belum memadai
Ø bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas diperlukan perangkat peraturan perundang-undangan untuk mewujudkan keseimbangan perlindungan kepentingan konsumen dan pelaku usaha sehingga tercipta perekonomian yang sehat
Ø bahwa untuk itu perlu dibentuk Undang-undang tentang Perlindungan Konsumen.

1.       Hak-hak konsumen
Sebagai pemakai barang/jasa, konsumen memiliki sejumlah hak dan kewajiban. Pengetahuan tentang hak-hak konsumen sangat penting agar orang bisa bertindak sebagai konsumen yang kritis dan mandiri. Tujuannya, jika ditengarai adanya tindakan yang tidak adil terhadap dirinya, ia secara spontan menyadari akan hal itu. Konsumen kemudian bisa bertindak lebih jauh untuk memperjuangkan hak-haknya. Dengan kata lain, ia tidak hanya tinggal diam saja ketika menyadari bahwa hak-haknya telah dilanggar oleh pelaku usaha.

Berdasarkan UU Perlindungan konsumen pasal 4, hak-hak konsumen sebagai berikut :
Ø  Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengonsumsi barang/jasa.
Ø  Hak untuk memilih dan mendapatkan barang/jasa sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan .
Ø  Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang/jasa.
Ø  Hak untuk didengar pendapat keluhannya atas barang/jasa yang digunakan.
Ø  Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut.
Ø  Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen.
Ø  Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskrimainatif.
Ø  Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi, atau penggantian, jika barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya.
Ø  Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

PERBUATAN YANG DILARANG BAGI PELAKU USAHA

Ketentuan mengenai perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha diatur dalam Pasal 8 – 17 UU PK. Ketentuan-ketentuan ini kemudian dapat dibagi kedalam 3 kelompok, yakni:

1.      larangan bagi pelaku usaha dalam kegiatan produksi (Pasal 8 )
2.      larangan bagi pelaku usaha dalam kegiatan pemasaran (Pasal 9 – 16)
3.      larangan bagi pelaku usaha periklanan (Pasal 17)

Ada 10 larangan bagi pelaku usaha sesuai dengan ketentuan Pasal 8 ayat (1) UU PK, yakni pelaku usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang dan/atau jasa yang :
Ø  Tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan ketentuan peraturan perundang-undangan;
Ø  Tidak sesuai dengan berat bersih, isi bersih atau netto, dan jumlah dalam hitungan sebagaimana yang dinyatakan dalam label atau etiket barang tersebut;
Ø  Tidak sesuai dengan ukuran, takaran, timbangan dan jumlah dalam hitungan menurut ukuran yang sebenarnya;
Ø  Tidak sesuai dengan kondisi, jaminan, keistimewaan atau kemanjuran sebagaimana dinyatakan dalam label, etiket atau keterangan barang dan/atau jasa tersebut;
Ø  Tidak sesuai dengan mutu, tingkatan, komposisi, proses pengolahan, gaya, mode, atau penggunaan tertentu sebagaimana dinyatakan dalam label atau keterangan barang dan/atau jasa tersebut;
Ø  Tidak sesuai dengan janji yang dinyatakan dalam label, etiket, keterangan, iklan atau promosi penjualan barang dan/atau jasa tersebut;
Ø  Tidak mencantumkan tanggal kadaluwarsa atau jangka waktu penggunaan/pemanfaatan yang paling baik atas barang tertentu;
Ø  Tidak mengikuti ketentuan berproduksi secara halal, sebagaimana pernyataan “halal” yang dicantumkan dalam label.
Ø  Tidak memasang label atau membuat penjelasan barang yang memuat nama barang, ukuran, berat/isi bersih atau netto, komposisi, aturan pakai, tanggal pembuatan, akibat sampingan, nama dan alamat pelaku usaha serta keterangan lain untuk penggunaan yang menurut ketentuan harus di pasang/dibuat.
Ø  Tidak mencantumkan informasi dan/atau petunjuk penggunaan barang dalam bahasa
  
Contoh kasus :

Contoh Kasus Pada tanggal 19 Oktober 2003 di sebuah warung nasi goreng di Jl. R.C. Veteran Bintaro, Penggugat membeli minuman Coca-Cola botol ukuran 193 ml, yang diminum dengan menggunakan sedotan hingga lebih dari 2/5 bagian. Kemudian setelah meminumnya Penggugat sadar akan rasa dan bau asing yang tidak seperti biasanya rasa Coca-cola tersebut, terlihat jelas terdapat sepotong obat nyamuk bakar didalam botol tepatnya didasar botol tersebut. Tak lama kemudian tenggorokan serta dada Penggugat didera rasa sakit dan panas yang berlebihan, kepala berdenyut sakit serta perut bergejolak yang menimbulkan rasa mual dan nyeri yang semakin lama semakin menjadi, maka Penggugat segera dilarikan ke Klinik Remedika, Bintaro, Jakarta Selatan untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Dengan ditemukanya potongan obat nyamuk tersebut, dapat disimpulkan minuman coca-cola telah terkontaminasi oleh racun jenis pestisida yang seharusnya digunakan sebagai bahan dasar untuk membunuh serangga, sehingga apabila masuk kedalam tubuh manusia, hal ini dapat mengancam dan membahayakan kesehatan dan keselamatan jiwa. Setelah berusaha melakukan penyelesaian secara kekeluargaan dan ternyata tidak mendapatkan tanggapan yang memadai dari pihak produsen, maka konsumen tersebut (Takasu Masaharu) mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum dengan dalil Para tergugat telah melakukan pelanggaran atas : Pasal 4 huruf (a, d, h, dan I) UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mengenai hak-hak konsumen, pasal 7 huruf (b,d, dan f) jo. pasal 8 ayat (1) huruf a, ayat 2 dan 4 UUPK mengenai kewajiban pelaku usaha.



Senin, 18 April 2016

PENULISAN SOFSKILL

CONTOH HUKUM ADAT DI SUATU DAERAH LUAR NEGERI

JAWAB :

Adat-adat di Malaysia
Adat bagi setiap kaum di Malaysia pastinya dilihat dari sistem nilai yang berbeza. Martabat adat itu sendiri berbeza kedudukanya bagi masyarakat Malaysia pada hari ini. Bagi masyarakat Minangkabau sebagai contoh, adat dianggap sebagai sebuah tradisi lisan yang tinggi sekali martabatnya dalam kehidupan mereka. Adat Perpatih berasal dari tanah Minangkabau, Sumatera, diasaskan oleh seorang pemimpin Minang bernama Sutan Balun yang bergelar Dato' Perpatih Nan Sebatang. Adat ini adalah amalan dan peraturan hidup yang ditentukan bagi masyarakat Minangkabau yang rata-ratanya adalah petani ketika itu. Tidak ada tarikh yang tepat dicatatkan bila adat ini diwujudkan. Tetapi Adat Perpatih telah dibawa ke Semenanjung Malaysia oleh perantau-perantau Minangkabau pada abad ke-14 Masihi.

Di Malaysia, Adat Perpatih ini masih lagi wujud dan diamalkan oleh masyarakat Melayu di Negeri Sembilan yang majoritinya adalah keturunan Melayu Minangkabau. Mereka itu terbahagi kepada beberapa puak yang dipanggil suku. Perlantikan Yang Di-Pertuan Besar Negeri Sembilan adalah satu-satunya warisan Adat Perpatih. Begitu juga dengan perlantikan Undang Luak yang empat iaitu Rembau, Sungai Ujung, Johol dan Jelebu semuanya adalah berteraskan kepada Adat Perpatih. Adat Perpatih ini diwariskan dari generasi ke generasi melalui kata-kata perbilangan. Ia merangkumi pelbagai aspek kehidupan masyarakat termasuk soal harta pusaka, perlantikan pemimpin, hukum nikah kahwin, amalan bermasyarakat, sistem menghukum mereka yang melanggar adat atau melakukan kesalahan dan pelbagai aspek lagi.

Setiap peraturan itu ada rasional atau sebab-sebab terjadinya hukum atau adat itu. Adat Perpatih lebih mengutamakan golongan perempuan. Hal ini dapat dilihat dalam soal-soal pembahagian harta benda dan jurai keturunan. Ini bukan bermakna lelaki lebih rendah tarafnya daripada perempuan tetapi mereka lebih suka mengembara atau merantau untuk mencari penghidupan baru yang lebih baik. Maka, golongan wanita mesti dibekalkan dengan harta benda sebagai nafkah. Selain itu, selepas berkahwin, orang lelaki mesti meninggalkan kaumnya dan mengikut kaum isterinya. Walaupun adat ini mengutamakan golongan perempuan, tetapi dari segi pentadbiran, lelaki merupakan pemegang tampuk pemerintah tertinggi seperti jawatan Yamtuan. Perlantikan pemimpin, misalnya, banyak yang menyamakan sistem Adat Perpatih dengan amalan demokrasi.

Contohnya ialah perlantikan Yang Di-Pertuan Besar Negeri Sembilan di mana bukannya melalui keturunan dari bapa ke anak tetapi adalah melalui pemilihan oleh Undang Luak yang empat iaitu Undang Rembau, Undang Sungai Ujung, Undang Johol dan Undang Jelebu. Empat undang ini akan bermesyuarat untuk melantik salah seorang keturunan dari raja Pagar Ruyung untuk menjadi Yang DiPertuan. Undang Luak pula dilantik oleh Dato'-Dato' Lembaga di Luak masing-masing. Dato' Lembaga ini pula adalah pemimpin-pemimpin yang dilantik secara muafakat oleh pemimpin-pemimpin keluarga yang digelar Buapak. Oleh itu secara keseluruhannya kuasa melantik pemimpin itu sebenarnya berada di tangan rakyat biasa. Inilah satu sistem Adat Perpatih yang ada persamaan dengan demokrasi.

Adat Temenggung pula diamalkan di semua negeri-negeri Melayu kecuali Negeri Sembilan. Adat Temenggung disusun oleh Datuk Ketemenggungan, iaitu abang tiri Datuk Perpatih Nan Sebatang di Palembang. Adat ini dibawa masuk ke Melaka pada awal abad ke-15. Dari Melaka, Adat Temenggung disebar ke negeri-negeri Melayu yang lain dengan perkembangan Empayar Melaka. Adat Temenggung mengiktirafkan lelaki menjadi ketua keluarga. Maka, adat ini dikatakan lebih mementingkan pihak lelaki. Dalam hal perwarisan harta, lelaki yang mewarisi harta iaitu dari ayah kepada anak lelaki. Adat Temenggung juga mengkehendaki seseorang isteri tinggal bersama dengan keluarga suaminya.

Selain itu, Adat Temenggung menganggap kedua-dua pihak keluarga sama penting. Perkahwinan diantara dua orang sepupu dibenarkan asalkan kedua-dua orang tua tidak mempunyai pertalian darah. Selain itu, undang-undang didalam Adat Temenggung adalah sama seperti Adat Perpatih iaitu berbentuk peribahasa, bidalan dan sebagainya. Tetapi undang-undangnya bersifat kekerasan. Setiap orang yang melakukan kesalahan, dia akan di hukum dengan hukuman berat. Sebagai contoh, seseorang yang membunuh akan dijatuhkan hukuman mati. Mereka percaya bahawa hanya menggunakan kekerasan sahaja dapat mengurangkan niat seseorang untuk melakukan kesalahan. Adat Temenggung juga mempunyai unsur autokratik. Adat Temenggung mengutamakan kedudukan istimewa dan kebesaran pemerintah. Ia bukan sahaja memberi kuasa kepada pemerintah tetapi juga kepada para pembesar.

Oleh itu, golongan pemerintah mempunyai kuasa berlebihan. Dengan itu, adat ini dikatakan bersifat autokrasi dimana semua kuasa adalah terletak dalam tangan pemerintah dan pembesar. Masyarakat Cina di Malaysia juga seperti masyarakat-masyarakat lain yang mempunyai adat dan cara hidupnya sendiri. Secara teorinya, dapat kita katakan bahawa adat kaum Cina di Malaysia ialah warisan daripada negara China. Ini memandangkan berlaku proses kemasukan besar-besaran kaum Cina ke Tanah Melayu pada awal abad ke 19 dahulu, kemasukan kaum Cina ke Tanah Melayu ketika itu secara tidak langsung telah membawa sekali segala adat istiadat mereka. Kaum Cina di Malaysia mempunyai beberapa pegangan dalam menjalankan proses kehidupan mereka, seperti juga lain-lain kaum, masyarakat Cina juga mempunyai adat tentang perkahwinan, kematian, dan sebagainya.

Lazimnya adat istiadat Cina dipengaruhi oleh unsur Buddha yang menjadi pegangan kebanyakan ahli dalam masyarakat Cina. Falsafah lampau juga banyak mempengaruhi adat istiadat Cina sehingga menyebabkan mereka mempunyai pelbagai acara-acara dan pantang larang yang berorientasikan adat. Seperti juga masyarakat majoriti Melayu dan Islam, masyarakat Cina juga mementingkan nasab keluarga dari sebelah lelaki. Nama pangkal seseorang iaitu nama keluarga didalam masyarakat Cina ialah nama keluarga disebelah lelaki. Sebagai contoh, nama Dato’ Lee Chong Wei dan Prof. Wang Gunwu, nama pangkal mereka iaitu Lee dan Wang itu ialah nama warisan keluarga ayah mereka yakni nama keluarga sebelah lelaki. Ini merupakan salah satu aspek adat yang menjadi amalan masyarakat Cina. 

Kaum lelaki Cina juga seperti kebanyakan lelaki bangsa lain, dilantik menjadi ketua keluarga dan merupakan waris utama pusaka keluarga. Kepentingan meneruskan kesinambungan keluarga didalam masyarakat Cina menyebabkan perkahwinan seorang lelaki didalam keluarga adalah amat penting. Secara tradisi, perkahwinan tersebut akan mengikuti beberapa upacara yang bermula dengan merisik oleh seorang perantara hinggalah perkahwinan. Namun, pada zaman yang lebih moden ini, hanya pendaftaran menurut undang-undang saja yang diperlukan dan akan diadakan majlis keraian yang mewah di restoran.

Kelahiran anak mengikut adat dan pantang larang Cina ialah sangat penting. Justeru kesihatan si ibu dan kandunganya adalah amat dititik beratkan. Si ibu digalakkan tidur dan makan dengan baik, membaca buku yang baik dan melihat benda-benda yang cantik. Apabila anak itu dilahirkan, anak itu dibersihkan dan akan dibedung. Pada hari ke 29 kelahiran, rambut si anak dicukur dan rambutnya dibungkus dengan kain merah. Rambut itu akan digantung berdekatan bantalnya selama 100 hari dan kemudian rambut itu dibuang ke sungai. Anak itu diharap akan menjadi berani pada masa hayatnya.
Setelah sebulan kelahiran anak itu, upacara Bulan Penuh akan diadakan dengan meriah. Ulang tahun kelahiran seseorang kaun Cina tidak akan diperingati, kecuali diperingati oleh anaknya apabila seseorang itu sudah tua dan ianya akan diadakan secara besar-besaran. Kematian ibu bapa dalam masyarakat Cina adalah upacara yang amat berharga dan mahal kosnya yang terpaksa ditanggung oleh anak-anak. Keranda yang baik, tanah perkuburan yang baik dan pakaian kematian yang bagus pastinya memerlukan belanja besar. Bagi masyarakat Cina inilah hadiah terbaik seorang anak kepada ibu bapanya. Jika si anak tidak mampu, masyarakat sekeliling pasti akan membantu. Anak lelaki yang tua memainkan peranan utama memastikan upacara mandi, memberi makan, kafan dan bertanggungjawab memasukkan mayat ke dalam keranda seperti yang dinasihatkan oleh seorang tukang tilik.

Keranda tersebut akan dijaga hingga beberapa hari tertentu untuk lawatan dan sembahyang seterusnya akan dikebumikan pada satu hari yang ganjil. Didalam masyarakat Cina, upacara pengkebumian adalah acara yang amat meriah dengan dipenuhi dengan peraturan dan adat tertentu. Selepas pengkebumian mayat, akan diadakan pelbagai upacara lain terutama adat pembakaran colok dan alatan yang diperbuat daripada kertas sebagai bekalan hidup si mati di alam akhirat. Upacara ini biasanya akan diketuai oleh seorang Sami yang diamanahkan oleh keluarga si mati.
 Oleh kerana adat kematian ini dianggap terlalu penting dalam masyarakat Cina, banyak kepercayaan dan pantang larang mesti diperhatikan dan dipatuhi apabila berlaku sesuatu kematian. Sepanjang tahun dalam kehidupan masyarakat Cina, banyak sekali perayaan yang diikuti dan diraikan oleh orang Cina. Setiap bulan, pasti ada kegiatan dan upacara tertentu serta dewanya yang berlainan untuk dipuja.

Adat resam masyarakat Cina amat banyak dan ianya akan diamalkan mengikut perubahan musim pertanian dan negeri China. Antara upacara-upacara yang diraikan masyarakat Cina selain dari Tahun Baru Cina dan Chap Goh Meh ialah adat Ulang Tahun Kematian, adat Puja Kampung, adat Mencuci Kubur, Sembahyang Hajat dan Menjamu Keramat. Adat-adat ini tampak seumpama perbuatan-perbuatan yang menjadi amalan masyarakat Melayu. Namun ianya pastilah berbeza dan dijalankan dengan cara dan matlamat yang berbeza bagi mewujudkan identiti masyarakat Cina yang tersendiri.
Kaum India juga bukanlah penduduk asal Malaysia. Kemasukan masyarakat India ke Tanah Melayu sudah berlaku sejak sekian lama. Samada kemasukan itu suatu bentuk penghijrahan atau sekadar merantau untuk mencari rezeki, hakikatnya kemasukan ini sudah berlaku sejak sekian lama. Apabila Melaka muncul sebagai pusat perdagangan serantau menjelang abad ke 15,masyarakat India yang terdiri daripada golongan pedagang, sami Buddha dan Hindu, tukang dan sebagainya tidak terlepas pandang untuk memasuki Tanah Melayu dengan pelbagai kepentingan.

Kemasukan mereka ini juga sudah pasti membawa bentuk adat istiadat mereka yang tersendiri. Masyarakat India biasanya mengikuti adat resam yang berteraskan agama Hindu meskipun ramai orang India pada hari ini beragama lain. Seperti kaum-kaum lain di Malaysia, mereka juga mempunyai budaya berkunjung ke rumah rakan dan sanak saudara serta turut bersedia menerima kunjungan dari jiran tetangga. Didalam masyarakat India, jika kita ingin berkunjung kerumah tetamu, amatlah digalakkan membawa buah tangan sebagai tanda terima kasih kepada tuan rumah.
Mereka juga biasanya melangkah kedalam rumah dengan kaki kanan dahulu. Kaum India juga mengamalkan adat bertegur sapa sesama sendiri. Mereka menyapa dengan sebutan ‘vanakam’ dan sentiasa bertanyakan tentang kesihatan, kerja, perniagaan atau sebagainya antara rakan dan sanak saudara mereka. Apabila tetamu bertandang ke rumah mereka, tetamu sentiasa dijamu dengan minuman atau makanan dan tetamu mesti sudi menerima hidangan dengan baik sebagai tanda hormat kepada tuan rumah.

Didalam masyarakat India juga, jika menerima sesuatu, dimestikan menggunakan tangan kanan sebagai tanda kebaikan dan kesyukuran. Keluarga amat penting dalam masyarakat India. Meskipun bapa memainkan peranan utama tetapi ibu adalah institusi yang paling dihormati dan dianggap mulia, ‘Ibu adalah umpama Tuhan’ dan anak perempuan juga dipanggil ‘amma’ seperti seorang ibu didalam tradisi India.
Oleh itu, penjagaan anak perempuan amat dititik beratkan terutama ketika mereka masih dara. Seorang suami pula didalam masyarakat India adalah ‘Tuhan bagi isterinya’ dan mesti sentiasa dihormati. Oleh kerana itu, proses perkahwinan India mesti ditentukan oleh seorang ketua agama yang membuat tilikan masa bertuah serta keserasian pasangan yang akan berkahwin.

Masa perkahwinan yang dianggap bertuah amatlah penting bagi menjalankan segala acara dan upacara untuk mengelakkan berlakunya malapetaka ataupun nasib buruk. Untuk mengelakkan dari keadaan buruk, maka biasanya perkahwinan dilakukan pada waktu tengah malam atau waktu matahari akan naik. Upacara perkahwinan dilakukan di rumah pengantin perempuan ataupun di kuil oleh seorang ketua agama.
Pada satu kawasan empat segi di kuil itu, sami akan menyalakan api dan menyembah Tuhan untuk menyaksikan perkahwinan itu. Seperti juga adat kaum-kaum lain, kelahiran seorang bayi adalah acara yang penting kepada keluarga dan masyarakat India. Semua saudara mara akan dimaklumkan apabila lahirnya seorang bayi. Selama 16 hari selepas kelahiran bayi, ahli keluarga tidak boleh melakukan sebarang upacara agama. Pada hari ke 16 kelahiran, upacara penting diadakan untuk menamakan anak.

Ketika ini rumah dan buaian akan dihias cantik dan jiran-jiran dijemput bersama meraikan upacara tersebut. Dalam aspek pemberian nama anak, nama seorang anak diperolehi dari almanak Hindu mengikuti bintang dan hari kelahirannya. Seorang ketua agama akan dirujuk untuk mencari nama bertuah mengikuti aksara bintangnya. Ketika menamakan itu, bayi dipangku oleh orang tua satu persatu sambil dinyanyikan doa agama oleh kaum wanita mereka.

Dari aspek perayaan, terdapat banyak perayaan di kalangan masyarakat India. Di sepanjang tahun, mengikut kalendar Hindu mereka akan mengadakan pelbagai upacara sembahyang berkaitan musim dan perubahan tahun seperti di negeri India. Masyarakat Hindu akan bersembahyang sebanyak tiga kali sehari iaitu pada waktu pagi, tengahari dan petang di tempat tertentu di rumah. Mereka juga pergi ke kuil untuk bersembahyang ataupun mengadakan upacara agama. Perayaan kaum India diadakan dengan mengikuti peredaran bulan dan setiap bulan ditandakan oleh bulan mengembang dan bulan menirus. Terdapat 21 jenis perayaan didalam adat masyarakat India. Perayaan-perayaan itu termasuklah Deepavali, Thaipusam dan Thaiponggal.

Deepavali ialah ‘perayaan cahaya’ sebagai tanda kejayaan ‘cahaya’ ke atas ‘gelap’ atau ‘ilmu’ ke atas ‘kejahilan’ ataupun ‘keadilan’ mengatasi ‘kezaliman’. Inilah perayaan paling utama bagi masyarakat India. Pada hari ini sembahyang akan diadakan terutama untuk mendoakan roh keluarga yang sudah meninggal dunia. Thaipusam pula adalah perayaan bulan “Thai” untuk membersihkan diri dengan menggunakan susu, madu dan bunga di kuil dan membuat persembahan kepada Dewa Subramaniam.
Pada masa perayaan ini diadakan, ‘kavadi’ yang berisi buah-buahan, susu dan akan dibawa pelbagai persembahan. Thaiponggal pula merupakan perayaan menuai dan ‘masak padi baru’ serta ‘memuja semangat padi’. Ia adalah masa yang amat baik untuk mangadakan perkahwinan dan upacara lain. Rumah akan dibersihkan dan dihiasi, ‘ponggal’ pula akan dimasak di dalam periuk baru untuk dipersembahkan kepada Dewa Matahari dan juga disedekahkan kepada jiran tetangga.

Sarawak yang terkenal dengan nama jolokannya Negeri Bumi Kenyalang mempunyai rakyat yang terdiri dari pelbagai suku kaum. Terdapat kira-kira 30 kumpulan etnik di Sarawak. Kaum Iban merupakan suku kaum yang terbesar di Sarawak, diikuti oleh kaum Cina, Melayu, Bidayuh, Melanau dan kaum-kaum etnik yang lain. Sebagai sebuah negeri yang mempunyai pelbagai bangsa dan suku kaum, sudah pasti terdapat pelbagai kebudayaan dan adat resam yang diamalkan.
Bagi masyarakat Sarawak, adat resam merupakan satu warisan tradisi yang begitu dititikberatkan dan telah sebati dengan kehidupan seharian mereka. Sebagai contoh, dalam masyarakat Iban yang merupakan golongan majoriti di negeri Sarawak, terdapat pelbagai suku kaum masyarakat Iban seperti Balau, Sebuyau, Lemanak dan lain-lain. Masyarakat Iban masih kuat berpegang dengan identiti tradisi mereka di samping mengamalkan pelbagai jenis adat resam yang unik.
Dari segi geografi, kebanyakan masyarakat Iban mendiami beberapa kawasan pedalaman yang tertumpu di tengah-tengah negeri Sarawak dan sebilangan kecilnya menetap di kawasan-kawasan bandar. Antara adat resam atau kebudayaan yang masih diamalkan oleh masyarakat Iban ialah dalam aspek kelahiran. Kaum Iban banyak mengamalkan pantang larang dan adat-adat tertentu dalam aspek kelahiran. Peranan bidan juga sangat penting semasa membuat persiapan menyambut kelahiran dan juga selepas bersalin. Adat-adat tersebut dapat dilihat dari peringkat sewaktu mengandung, bersalin dan selepas lahir. Dalam tempoh tujuh bulan sewaktu mengandung, wanita Iban dan suaminya dikenakan pelbagai pantang larang, antaranya ialah dilarang menggali parit di kawasan padi atau di mana-mana sahaja.
Mereka juga dilarang memotong pokok yang menjalar di atas tanah, kerana dibimbangi akan menghalang pendarahan yang berterusan semasa melahirkan anak. Wanita yang mengandung juga dilarang menuang minyak ke atas tapak tangan untuk disapu pada rambut supaya bayi yang bakal lahir tidak akan bernanah. Selain itu, suami isteri juga tidak boleh mengetuk telur menggunakan pisau atau kayu kerana dikhuatiri bayi itu akan cacat penglihatan. Mereka juga tidak boleh menanam pokok pisang supaya si bayi tidak berkepala besar. Disamping itu juga mereka tidak boleh memikul batu-bata tajam di dalam raga kerana dikhuatiri bayi akan lumpuh. Mereka juga tidak boleh membawa kura-kura ke dalam bilik supaya bayi tidak tersekat di dalam rahim semasa dilahirkan. 
Dalam masyarakat Iban, sebaik sahaja bayi dilahirkan, buluh yang dipanggil Pontong akan dipalu untuk memanggil jiran-jiran. Selain pontong, tembakan senapang juga turut digunakan. Sejurus selepas bayi dilahirkan, tali pusatnya akan segera dipotong dan bayi akan dimandikan. Seterusnya bayi dibedung dengan kain Pua Kumbu atau selimut yang ditenun cantik. Ketika bersalin, si isteri akan dibantu oleh seorang bidan dan dia akan memastikan ibu dan bayi dalam keadaan baik dan teratur. Seterusnya badan si ibu akan diurut oleh bidan bertujuan untuk menghilangkan rasa sengal-sengal badan akibat bersalin tadi. Selepas diurut, badan si ibu akan diusap pula dengan ubat yang diperbuat daripada halia dan entemu yang dibalut dengan tekalung, sejenis kain yang dibuat daripada kulit kayu. Wanita Iban akan berpantang selama tiga puluh hari selepas melahirkan anak.
Dalam tempoh berpantang itu, ibu akan diberi makan nasi dan ikan salai atau ikan kering yang kadang-kadang dicampur dengan pucuk paku dan buah pulur. Semua makanan tersebut pula perlu dicampurkan dengan halia atau air rebusan halia supaya dapat memanaskan badan. Selepas bersalin, wanita kaum Iban perlu menjalani satu amalan yang dipanggil berdiang atau bersalai, di mana si ibu perlu duduk dekat dengan unggun api. Kayu yang digunakan untuk unggun api ini mestilah dari jenis kayu yang baik. Antara jenis kayu yang lazim digunkan ialah kayu malam, manding atau langsat. Kayu-kayu ini juga dikatakan mampu menyembuhkan penyakit ibu yang baru bersalin. Jika kayu yang digunakan untuk berdiang tersebut basah atau dari jenis beracun, dibimbangi asapnya akan memudaratkan si ibu dan bayi.
 Si ibu perlu berdiang atau bersalai selama empat puluh satu hari. Dalam tempoh itu, si ibu perlu menggariskan kapur pada tiang atau dinding rumah untuk menghitung hari kelahiran. Kesihatan si ibu dianggap pulih seperti sediakala apabila selesai menjalani adat-adat ini. Adat melihat matahari atau merasa garam dijalankan apabila bayi sudah tanggal pusat iaitu ketika bayi berusia empat hari.
Bayi tersebut akan dibawa oleh nenek atau saudara perempuannya ke tanju atau luar anjung untuk melihat matahari sambil mulut bayi tersebut dirasakan dengan garam. Pada masa itu juga, doa atau mentera dibacakan agar kesihatan bayi sentiasa terpelihara. Kaum Iban begitu mementingkan adat memberi nama kepada anak-anak mereka yang baru lahir. Ini kerana, nama yang baik dan elok mempunyai kesan ke atas masa hadapan kanak-kanak tersebut. Lazimnya sebelum memberi nama yang rasmi, anak-anak kaum Iban akan diberi nama timangan. Bayi yang baru lahir itu seterusnya akan diberi nama sempena nama salah seorang daripada nenek moyangnya yang pernah berjasa dan handal.
Tujuannya supaya bayi itu akan mewarisi jasa serta mengikut jejak langkah nenek moyangnya itu. Seterusnya upacara memilih nama akan dijalankan di mana kepalan nasi akan diletak di atas papan yang tertulis nama-nama yang dipilih itu. Kemudian seekor ayam akan dilepaskan untuk membuat pilihan dan ini dikenali sebagai Manok Tawai. Kepalan nasi yang dipatuk oleh ayam tersebut akan menjadi pilihan untuk menamakan bayi tersebut. Kemudian barulah nama itu dihebohkan kepada saudara mara yang terdekat. Upacara mandi sungai dijalankan selepas bayi diberi nama. Ia dijalankan semasa bayi itu berumur satu bulan dan adat ini dijalankan bagi membiasakan bayi dengan air sungai. Permulaannya, jiran-jiran akan dimaklumkan untuk meraikan adat tersebut dengan meriah. Dua orang lelaki akan membawa seekor ayam dan panji-panji.
Kebiasaannya mereka ini ditugaskan membaca mentera dan menetak air sungai. Dua orang perempuan pula akan mengiringi lelaki tersebut. Seorang akan membawa ancak dan seorang lagi mengendong bayi. Bayi tersebut dipakaikan kain pua belantan dan kumpulan itu akan diikuti pula oleh orang ramai. Ketika ini doa atau mentera dibaca meminta supaya bayi itu menjadi orang yang sempurna dan berguna. Sebaik sahaja mentera dibaca, dua orang lelaki tadi akan menetak air dan ayam disembelih. Nama bayi juga akan diumumkan ketika itu. Bagi bayi lelaki, sayap ayam akan diikat dengan benang merah yang digantung pada galah berayang. Manakala bagi bayi perempuan pula, benang tersebut digantung pada galah laletan. 
Selepas bayi dimandikan, dia akan dibawa pulang sambil gendang dipalu. Bayi itu akan dipangku dan pemangku duduk di atas tawak atau gong yang diletakkan di tengah-tengah ruai. Kemudian, bayi dan pemangkunya diselimutkan dengan kain pua kumbu dan disiram dengan air rendaman batu penawar burung, cincin emas atau wang ringgit lama. Selepas upacara mandi selesai, tetamu-tetamu akan dijamu dengan air tuak dan makanan yang ringkas. Upacara ini diakhiri dengan kenduri mandi anak iaitu menjamu tetamu dan ahli rumah panjang dengan makanan yang lebih banyak. Kanak-kanak lelaki kaum Iban akan berkhatan ketika berumur sepuluh tahun. Berkhatan lazimnya dilakukan secara senyap dan tidak disertai dengan kenduri. Kanak-kanak yang tidak berkhatan akan digelar sebagai lelaki kulup di kalangan kaum Iban.


TUGAS SOFSKILL

SOAL :
1.    Apakah peranan hukum di dalam ekonomi?
2.    Apakah hukum juga berlaku di daerah pedalaman? Kalau tidak berlaku, lalu bagaimana hukum atau aturan di daerah pedalaman!
3.    Dapatkah seseorang itu kebal hukum?
JAWAB :
1.      Berperan untuk mengatur dan membatasi kegiatan-kegiatan ekonomi
sehingga pembangunan perekonomian tidak mengabaikan hak
dan kepentingan masyarakat.

2.  Hukum harus diterapkan di daerah manapun tanpa terkecuali, termasuk di daerah pedalaman. Karena daerah pedalaman masih berada dalam suatu Negara, dimana negara tersebut pasti memiliki sebuah hukum. Apabila kita berbicara tentang masyarakat di daerah pedalaman atau yang biasa disebut Komunitas Adat Terpencil, mungkin ada beberapa daerah yang tidak sepenuhnya menerapkan Hukum Negara sebagai acuan kehidupan hukum mereka. Biasanya mereka lebih sering menerapkan Hukum Adat untuk kehidupan mereka.dan kalaupun disuatu pendalaman tidak menggunakan hukum biasanya akan menjadi anarkis satu sama lainnya.
3.     Secara teori, tidak ada seseorang pun yang kebal terhadap hukum. Karena hukum dibuat untuk ditaati oleh siapa pun juga tanpa pandang bulu, tanpa melihat jabatannya, tanpa melihat harta kekayaannya, atau apapun juga. Tapi secara praktiknya ada beberapa kasus yang menyebabkan seseorang menjadi kebal hukum.